Tiba-tiba

0
539
Ilustrasi dari fineartamerica.com

SETIAP menjelang tidur malam, anakku selalu menagih cerita. Tapi aku jarang mengisahkan cerita-cerita yang umum. Cerita tentang si kancil, peri, dongeng monyet, dan kisah-kisah yang biasa dijadikan materi dongeng penghantar tidur jarang singgah di dongeng malam. Kami selalu mencari topik bed time stories yang baru. Kadang dia yang kasih topik, kadang aku yang menentukan sendiri. Sekenanya saja, yang penting seru.

Bagiku ini jadi tantangan menarik karena membuat cerita sendiri itu jauh lebih nikmat. Dulu aku pernah koleksi artikel-artikel dongeng untuk anak, tapi ceritanya biasa aja (menurutku tentu saja). Bagi anak-anak yang belum pernah mendengar cerita itu jelas materinya masih hal baru. Selain itu, menciptakan cerita sendiri juga sekaligus melatih untuk menanamkan nilai kepadanya sesuai konteks dan pemahamannya saat itu. Tidak memaksakan moral cerita pada dongeng yang sudah template.

Bagian yang paling ia tunggu adalah action dari cerita. O ya, setiap ada cerita, sedapat mungkin dia ikut masuk dalam peran. Entah jadi raksasa, jadi serigala, atau karakter yang lain. Supaya kalau ada agedan berantem, dia bisa ikutan berantem juga, dan tentu saja harus menang. Kalau sudah menang baru ia bisa tidur cepat.

Ada satu pelajaran lagi yang aku pelajari saat merancang cerita: gunakan kata tiba-tiba. Ia selalu menanti kata kunci itu karena setiap kata tiba-tiba muncul maka akan ada jalan cerita yang lebih menarik. Matanya seolah berbinar saat aku mengucapkan kata tiba-tiba. Dan…, berarti aku harus cari kreativitas baru supaya setelah kata tiba-tiba muncul ceritanya tidak datar.

Kekurangannya, aku selalu lupa kemarin cerita apa. Improvisasi  terbuka seperti ini terlalu mendadak sehingga tidak terkonsep.

Aku menulis ini karena beberapa minggu lalu ngobrol dengan mbak Peni Cameron, sang ratu animasi Indonesia. Baru ketemu dua atau tiga menit tiba-tiba beliau minta aku cerita sebuah bed time stories yang benar-benar baru. Aku mau cerita tapi waktu dan tempatnya tidak memungkinkan, nanti semua orang pada pingsan lihat aku cerita begitu.

“Susah kan bikin cerita kreatif,” kata mbak Peni Cameron karena aku masih bingung tantangannya itu beneran atau sekedar retorik saja? Padahal, setiap malam aku dan Fathin punya cerita baru sendiri. Bundanya saja pasti tidak tau kami cerita apa, kecuali cekikikan dan gaduh berantem.

***

LEAVE A REPLY