Rupiah Sakit Kok Masih Santai?

0
510

RUPIAH melemah tak berdaya terhadap dolar Amerika di angka  Rp13.000 lebih. Tapi pengaruhnya kok tidak terlihat? Beberapa harga malah cenderung turun.

Banyak yang sudah teriak-teriak, “Woi pemerintah, ngapain aja kok ga panik?” Pemerintah malah bilang, “Santai, negara yang lain juga bernasib sama. Ini masih terkendali.”

Tapi benarkah demikian?

Pagi tadi sempat membaca catatan Jusman SD, Komisaris Utama PT Garuda Indonesia, di link ini: http://unilubis.com/2015/03/12/jusman-sd-rupiah-melemah-mengapa-kita-tertawa/.

Catatan itu menarik karena melemahnya nilai rupiah tidak boleh dipandang remeh. Gejalanya memang belum terasa nyata, tetapi semua itu perlu disikapi dengan antisipasi yang matang. Jusman mengingatkan, “Krisis ekonomi bisa menyergap tanpa diundang, ketika semua orang tertawa lebar.”

Saya setuju dengan Jusman SD. Demam misalnya, tidak boleh hanya dipandang sempit sebatas sakit yang juga nanti sembuh sendiri setelah istirahat dan minum obat. Bisa jadi demam itu adalah indikasi penyakit yang lebih parah lagi. Makanya perlu diantisipasi sebelum terlambat.

Tetapi balik lagi ke pertanyaan rupiah melemah signifikan, kok masih adem ayem? Bagaimana menjawab ini? Ahli ekonomi tentu punya analisis yang lebih kuat, tapi boleh dong kita-kita yang ilmu ekonominya terbatas ini ikut serta nimbrung. Seperti halnya obrolan politik di warung kopi, tidak berkaitan kepentingan sama sekali tetapi asyik untuk diperbincangkan. Begitu pula analisis nan jeprut ini memandang kesantaian rupiah meski terhajar di harga tiga belas ribu rupiah per dolar Amerika.

Indonesia pernah selamat dari krisis di tahun 2008, saat resesi melanda dunia. Di tahun itu, seratus persen negara maju terkena dampak signifikan, tapi Indonesia aman dan tentram. Selepas krisis mereda, ahli ekonomi hampir sepakat menyatakan yang menyelamatkan Indonesia adalah akibat tingginya konsumsi di dalam negeri sehingga berhasil memutar roda ekonomi dengan kecepatan optimal. Dengan begitu ekonomi Indonesia cenderung stabil.

Dampak paling mudah dikenali dari menguatnya dolar terhadap rupiah adalah kenaikan harga. Pada link yang dirujuk tadi, Jusman SD malah menjelaskan pengaruh harga ini lebih mendalam.

Naiknya harga barang yang sama di waktu yang berbeda identik dengan inflasi. Contoh kecilnya, dengan kurs Rp 9.000, komputer yang tahun lalu harganya Rp 4 juta, sekarang melejit jadi Rp 5,7 juta lebih. Artinya sang komputer naik harga sebesar 144%. Pengaruhnya kurs dalam kasus beli komputer ini nyata: HARGA NAIK!.

Banding-banding data dulu yuk. Tahun 2008 inflasi mencapai puncak di angka 12,14% dengan nilai tukar sekitar Rp 9.000-an. Sementara, di Maret  2015 inflasi masih di angka 6,29% dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Rp 13.191. Loh, nilai tukar dan inflasi kok jadi berbanding terbalik? Bukannya seharusnya berbanding lurus?

Nilai tukar loncat tinggi, inflasi kok malah turun? Mungkin ini yang membuat kita tidak merasakan dampak kenaikan secara nyata. Kenaikan hanya terjadi pada beberapa item komoditi yang terkait langsung dengan nilai tukar.

Lah, kenapa tidak berpengaruh langsung? Beberapa ahli menganalisis pengaruhnya akan nyata terasa beberapa bulan ke depan. Apabila rupiah masih lemah tak berdaya, beberapa sektor akan rontok dan krisis ekonomi menghantui Indonesia.

Bicara krisis (resesi ekonomi), kalau dilihat sejarahnya, krisislah yang paling mudah menyebar, bukan sekedar nilai tukar. Krisis minyak global di tahun 1971 merembet dan membawa pengaruh yang sama di Indonesia. Kemudian Resesi ekonomi di pertengahan 90-an signifikan berpengaruh yang  membuat Indonesia jatuh dalam krisis 98 dan kita memasuki orde reformasi. Sepuluh tahun kemudian resesi global muncul lagi, tetapi Indonesia selamat oleh tingkat belanja dalam negeri yang memutar roda ekonomi.

Setidaknya, sinyal krisis global belum menggema di tahun 2015. Apakah ini yang membuat pemerintah yang sekarang terlihat santai aja?

Pakar International Management, Prof. Mario Guillen dari Wharton School Amerika mengatakan bahwa dalam era globalisasi ini, dunia semakin memiripkan diri. Ia menyebut dengan istilah Isomorphism, yang diberinya definisi: kecenderungan entiti untuk semakin mirip atau mengadopsi pola dan budaya tertentu. Menurutnya, dengan “memiripkan diri” ini, dunia semakin seragam (globalisasi) dan saling mempengaruhi. Sistem demokrasi mulai seragam, sistem ekonomi juga hampir sama, teknologi menggunakan framework yang sama, dan lain sebagainya.

Artinya, kalau dunia tidak jatuh ke masa krisis, maka ekonomi negara-negara juga tetap aman.

Ada hal menarik yang disampaikan oleh Prof. Mario Guillen berkaitan dengan keuangan dan nilai tukar. Pada pasar keuangan, hanya 10% saja yang merupakan transaksi komersial. Artinya, transaksi pada sektor riil yang melibatkan pasar uang hanyalah 10% dari total transaksi yang terjadi. Sisanya yang 90% kemana? Mario menjawab, transaksi itu ditujukan untuk mendapatkan uang (kegiatan spekulasi) dengan mentransaksikan perbedaan nilai tukar.

Biar tidak mengada-ada, begini lengkapnya kata Prof. Mario:

“… I want to buy something from abroad, let’s say from France, so I need to exchange a few dollars into Euros. Or another commercial transaction would be if I travel to one of those countries, or if a company wants to buy something in a foreign market.

Those are all commercial transactions where we estimate that no more than 10% of all of the currency exchange turnover in the world, in currency markets has to do with commercial transactions.

The question is, what accounts for the other 90%? Why do we observe so much currency being transacted in the world but just 10% is for commercial purposes.

So, think about it. Why else would people want to exchange one currency for another? 

The answer is the following, which is to try to make money, for speculation. So, this is kind of amazing. This is a new development really that didn’t exist a 100 or 200 years ago. That so much of the market for different currencies in the world has to do with speculation.”

Nah… jangan-jangan rupiah yang tiga belas ribu lebih ini akibat ulah 90 persen yang disebut Prof. Mario tadi? Lalu apa kata Mario Teguh? Itu justru pertanyaan saya :D.

kredit foto: www.teropongbisnis.com

LEAVE A REPLY