Renang Banci

2
986

Dulu, saya belajar renang di Danau Toba. Menguasai teknik berenang gaya bebas, sebebas-bebasnya. Yang penting ngapung dan melaju ke depan. Eh.. ke belakang juga bisa. Yang penting, bisa renang. Titik.

Ketika SMA saya diajari renang gaya dada. Itu loh renang yang muncul-tenggelam. Muncul lagi, tenggelam lagi. Gitu terus-terusan. Saya bilang itu renang gaya banci. Ogah belajar renang seperti itu. Sampai lulus SMA saya memang tak menguasai renang gaya dada. Diajarin teknik renang gaya bebas juga tak bisa saya terima sepenuh hati. “Masa’ perenang alami diajarin lagi renang?, huh” Gengsi itu mengalahkan kebaikan yang ditawarkan orang lain. Padahal kalau diajak balapan renang saya selalu kalah.

Nah… saat ini saya lagi rutin renang. Setiap minggu minimal sekali lah mencebur ke kolam renang Sabuga-ITB. Sebelumnya saya sudah mencoba olah raga jogging, capek euy… Baru lari 4 putaran rasanya ga betah. Padahal dulu pas mau ikutan Ospek IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi), syaratnya harus keliling lapangan Sabuga (ukuran standar lapangan sepakbola) sebanyak 20 kali tanpa henti. Saya juga pernah nyoba fitness. Lari-lari seperti marmut, ini juga ga berhasil. Kurang pas rasanya. Ikutan badminton juga pernah, tapi malu kalah melulu. Mau nyoba tennis dan golf, masih pasang niat aja sudah minder sendiri.

Renang menjadi olah raga yang benar-benar saya nikmati sekarang. Bayangkan…, sekarang saya bisa renang non-stop 45 menit tanpa perlu pit stop. Ya.. kurang lebih menempuh jarak hampir 2 kilometer lah. Tak terasa capek. Benar-benar menikmati bolak-balik lintasan panjang kolam renang ITB yang katanya ukuran olimpic size itu.

Kok bisa? Akhirnya saya menemukan juga rahasia nikmatnya “renang banci” itu. Meski dulu anti renang gaya dada, sekarang saya malah sudah ga pernah lagi renang gaya bebas. Pasalnya, kalau renang gaya bebas saya selalu tidak berhasil melintasi lebih dari 100 meter. Harus berhenti dulu istirahat. Belum lagi sering sekali si hidung, telinga, dan tenggorokan kemasukan air.

Renang gaya banci, eh gaya dada saya pelajari cuma lihat animasi renang di internet. Lalu praktik di kolam renang sendirian. Awalnya susah, tapi lama-lama berhasil juga. Justru, renang gaya dada ini benar-benar renang yang menghemat energi. Terpujilah penemu renang banci ini. He..he..

Dalam ukuran saya, saya sudah tekun belajar gaya dada supaya bisa menguasainya sampai tingkat hampir mahir. Kalau mahir berarti sudah berani balapan, saya memang sengaja ga ingin balapan. Cuma ingin olah raga sambil menikmati segarnya air kolam renang.

Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Sambil menyelam mencari hikmah, begitu kata saya mengekor pepatah itu. Beginilah hikmahnya.

Pertama, mudah bila menguasai teknik yang benar. Dulu, saya belajar sendiri renang gaya bebas tanpa panduan teknik yang benar. Hanya bisa mengapung dan melaju, itu saja. Bagaimana agar bertahan lama, efisien, dan cepat belum saya pelajari. Akibatnya saya hanya sekedar bisa tapi tidak kompetitif. Hanya kalau ada buaya saja baru bisa terpaksa melaju kencang. Untung saja di Danau Toba tak ada buaya.

Kedua, miliki irama sendiri. Dalam mempelajari sesuatu–tidak hanya renang tentunya–langkah awal yang paling mudah memang copy-paste seperti prinsip ala NLP. Tapi tak cukup, kita perlu lanjutkan agar sesuai dengan irama kita sendiri. Prinsip ini pernah saya lakukan ketika dulu belajar berbagai bahasa pemrograman agar bisa coding software sendiri. Setelah belajar teori-teorinya, lalu latihan menulis ulang ribuan baris code yang pernah dibuat oleh orang lain sampai berhasil. Supaya mahir, saya harus mampu coding dengan cara sendiri. Nah.. pada tahap inilah pengembaraan dimulai. Butuh waktu panjang hingga menemukan irama sendiri, menemukan gaya pemrograman sendiri.

Ketiga, menikmati. Bagi saya renang adalah olah raga yang sesuai dengan karakter saya pribadi. Saya menikmatinya sehingga renang 45 menit tanpa henti tak terasa lelah. Selain teknik yang benar, menikmati pekerjaan adalah kunci keberhasilan. Saya sering mendengar curhat teman-teman yang bekerja dengan gaji besar, prestisius tinggi karena menjadi bagian dari organisasi besar, mendapat akses ilmu yang banyak. Tapi, hidupnya merasa tak bermakna. Kalau saya perhatikan, intinya sih karena tidak menikmati saja.

Tiga aja dulu cukup untuk hari ini. Sebagai bonus, saya pernah menonton video dokumenter salah seorang penemu besar sepanjang sejarah: Dr. Yoshiro Nakamatsu atau biasa disebut Dr. NakaMats. Salah satu metode mencari ide yang paling ia minati adalah di kolam renang yakni dengan cara menyelam sampai batas maksimal yang ia mampu. “Otak itu bekerja optimal pada saat 0,5 detik menjelang mati” katanya. Ia mencari ilham dengan cara bermain-main dengan kondisi nyaris mati di kolam renang. Nah… kalau yang ini sih saya ga berani coba. Ntar malah mati beneran.

Salam olah raga..

Sumber foto: www.flickr.com/photos/eythor/3560338315

2 KOMENTAR

    • Bisa, terbuka untuk umum kok. Silakan saja. Tarif hari biasa Rp. 6.000 dan week end (sabtu & minggu) jadi Rp 8.000. Ini termasuk tarif paling murah untuk kolam renang umum di Bandung.

LEAVE A REPLY