Memelihara Permusuhan

0
230

SUDAH tiga tahun sejak pilpres 2014, nuansa permusuhan antara dua kubu tak juga kunjung reda. Setidaknya di arena sosial media, aroma permusuhan belum surut. Sekarang apalagi, sudah kian meruncing dan semakin membuat tak nyaman. Kita dengan mudahnya menjatuhkan penilaian baik-buruk orang lain akibat preferensi politiknya.

Politik? Yup… politik, rasa persaudaraan sebangsa kita retak-retak seperti sekarang erat kaitannya dengan peristiwa politik. Menuding, menyerang, membela, menyanjung-nyanjung, menyindir, menyudutkan, menghina, dan semua olok-olok yang MUDAH beterbangan itu apakah untuk kemajuan kita sebagai sebuah bangsa? Meragukan! Tidakkah lebih dekat pada agenda pemenangan calon pilihan masing-masing? Atau, setidaknya memanfaatkan konstelasi politik untuk memuntahkan uneg-uneg pada kelompok lain yang kebetulan pilihannya berseberangan dengan kita.

Lalu, apakah tokoh-tokoh politik itu memang sosok yang saling bertolak belakang sehingga harus dibela atau diserang habis-habisan? Satu disetankan, satunya dimalaikatkan. Satu dianggap suci bersih dan lawannya makhluk terhina. Rasanya tidak demikian. Pandanglah mereka dalam satu garis sejarah yang utuh. Dulunya juga pernah satu kubu, satu perjuangan, dan satu hasrat politik. Lantas kini mereka berseberangan sudut ring tinju dan kita (masyarakat) ikut serta berpukul-pukulan dari dua sudut yang berbeda. Bukan hanya pengurus partai, tim sukses, dan konsultan politik yang bertarung karena itu memang bagian dari job-desc mereka. Sensasi pertarungan itu pun meluas, hingga masyarakat awam pun kini sudah lebih mahir membela/menyerang dibandingkan tim sukses yang sedang bertarung.

Kenapa permusuhan ini semakin memuakkan saja?

Mungkin karena manusia memang butuh rasa permusuhan untuk tetap merasa sebagai orang yang hidup. Mengutip Nietzsche, “If an enemy did not exist, it would be necessary to invent one.” Manusia adalah makhluk yang ambivalen: memiliki perasaan yang bertentangan sekaligus. Perasaan mencintai saja membuat hidup tak seimbang, kita juga perlu rasa benci. Fenomena pendukung politik yang bipolar seperti sekarang ini menurut saya adalah manifestasi sempurna terpenuhinya sifat ambivalen itu: kita mencintai jagoan kita sepenuh hati sekaligus membenci lawannya. Dengan begitu kita seolah punya daya hidup yang lebih semarak.

Zaman penjahan Belanda dan Jepang, manusia Indonesia mencintai tanah air sepenuh jiwa dan membenci penjajah laknat itu. Lalu proklamasi merdeka adalah resolusi perasaan ambivalen nasional itu. Hingga tiba PKI menjadi musuh bersama yang berakhir dengan munculnya harapan baru yang bernama orde baru. Meskipun disebut-sebut sebagai era pembangunan, permusuhan terhadap orde baru semakin menggelora karena cenderung refresif dan koruptif. Reformasi pun menjadi resolusi.

Selepas reformasi kita sempat punya musuh bersama yakni negara tetangga yang gampang nian mengklaim sesuatu yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Lihat dampaknya, industri kreatif kita selain batik subur dan menggelora. Jangan-jangan kita memang sudah perlu punya musuh bersama lagi? Kalau musuhan sesama bangsa sendiri ini tidak keren, kontraproduktif, dan menggali kubur sendiri karena negara lain sedang berlomba menjadi bangsa yang kompetitif.

Semoga pemerintah mampu menunjuk musuh bersama agar semangat bermusuhan ini bisa terarah. Seperti halnya rakyat Korea Selatan yang dendam teramat sangat untuk mengalahkan dominasi Jepang hingga kini tampil menjadi negara berpengaruh di dunia. Program revolusi mental mungkin perlu difokuskan mencari musuh bersama kita supaya lebih berdaya guna. Alien kah musuh kita berikutnya? Atau para zombi saja? He..he..

BAGIKAN
Berita sebelumyaPijat Ghaib
Berita berikutnyaMenghadapi Underperformance

LEAVE A REPLY