Berkamuflase dengan Nada Sambung

3
551

SAAT sarapan pagi tadi sempat lihat wawancara Sekjen MK, Janedjri M Gaffar, yang sedang berseteru dengan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin. Wawancara memang tidak seimbang karena tidak melibatkan kedua belah pihak yang sedang misuh-misuh. Menurut TV-One mereka belum berhasil menghubungi beberapa pihak Demokrat untuk melengkapi tanggapan dua sisi.

Supaya masyarakat percaya, TV-One memperdengarkan nada sambung Nazaruddin saat ditelepon. Saya tidak tahu “memperdengarkan” ke publik nada sambung seperti ini etis tidak ya? Sebab, tidak diangkatnya telepon bisa dipersepsikan berbeda oleh masyarakat. Misalnya, Nazaruddin takut diwawancara. Nazaruddin marah sama TV-One. Nazaruddin lagi tidur. Nazaruddin pengecut. HP Nazaruddin ketinggalan di rumah, jadi tidak diangkat. Nah… macam-macam kan kemungkinan tanggapannya?

Saya tak punya kapabilitas beropini tentang kasus dugaan gratifikasi ini. Siapa yang salah dan siapa yang benar, biarlah yang pandai-pandai di negeri ini saja yang menuntaskan. Yang menarik bagi saya adalah nada sambungnya yang konon hp Nazaruddin itu. Saya tidak hapal itu lagu apa. Tapi jelas sekali terdengar kalimat “Ya Allah… ya Allah”, dst. Dugaan saya itu lagu rohani Islam. Berbahasa arab.

Kok bisa menarik? Karena tiba-tiba terputar kembali ingatan akan kisah beberapa tahun lalu. Begini ceritanya.

Saya mampir ke salah satu Kementerian di Jakarta. Kementerian apa itu, sudahlah tak penting dibahas. Melalui telepon saya diminta hadir karena perusahaan saya direkomendasikan oleh beberapa orang untuk menangani suatu pekerjaan. Sampai disini sudah ada empat variabel: Kementerian sesuatu, perusahaan tertentu, beberapa orang, dan pekerjaan ada deh. Semoga tak bingung.

Sesampainya di ruangan saya dipersilahkan duduk dan ditawari alternatif minum apa. Kopi, teh, atau jus?. Saya pesan kopi saja, inginnya sih sekalian nasi goreng, tapi urung karena ini bukan restoran. Setelah memanggil stafnya untuk memenuhi pesanan kopi tadi, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Ringtone yang berbunyi cukup nyaring. Sangat familiar dan tentu menyejukkan hati: beberapa ayat awal pada surat Yasin.

Akibat mendengar ringtone itu saya langsung terkesima dengan beliau. Pasti orangnya sholeh, penyayang keluarga, dan taat pada ajaran agama. Jarang-jarang loh orang mau memasang ringtone ayat suci Al Qur’an pada hp-nya. Saya yakin ia seorang yang sangat menjaga diri, karena setiap panggilan telepon masuk tentu kalimah suci itu akan langsung membersihkan hatinya. Dalam hati saya juga berniat melakukan hal yang sama pada hp saya sepulang dari gedung sungguh megah ini.

Ia membuka pembicaraan. Basa-basi sedikit saja karena ternyata ia cukup asertif dalam berkomunikasi, tak ada beban untuk berterus terang. “Jadi begini Pak, saya ada pekerjaan yang akan ditenderkan beberapa bulan mendatang,” ujarnya. Saya pasang telinga lebih tajam lagi agar dapat menyimak lebih baik. Ia menawarkan agar saya mengambil pekerjaan itu. Kebetulan secara teknis saya cukup paham detail pekerjaan, bahkan setelah lihat spesifikasi pekerjaan yang dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), saya merasa masih bisa memberikan hasil yang lebih dari sekedar memenuhi KAK. Ia juga memberikan informasi nilai pekerjaan dan saya cukup kaget ketika itu, karena nilai tersebut sangat besar. Saya bisa dapat untung banyak kalau nilainya segitu.

“Seperti biasanya, Bapak tentu paham kan, silahkan diajukan berapa kira-kira nilai yang akan Bapak kembalikan dari nilai proyek untuk dibagi dengan teman-teman disini,” ujar beliau sekaligus menjelaskan bahwa pemenang tender bisa diatur nanti. ‘Seperti biasa’, ya… kickback pada proyek-proyek pemerintah memang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan membudaya.

Terus terang saya gamang dalam hal ini. Selama ini perusahaan selalu mencari proyek-proyek yang benar-benar terbebas dari dana tendang-tendangan (kickback). Mendapati kenyataan seperti ini saya jadi bingung. Di satu sisi, pekerjaan tersebut benar-benar saya kuasai dan secara finansial perusahaan saya juga butuh pendapatan. Di sisi lain, hati kecil saya menyatakan tidak.

Setelah diskusi kesana-kemari, kesimpulan yang saya peroleh adalah mengikuti skenario yang ditawarkannya: bersekutu mendapatkan proyek pemerintah dengan imbalan kickback. Ia pun menawarkan skenario pemenangan tender. Lama saya berada dalam kegalauan. Akhirnya, sebelum semuanya berjalan saya ambil keputusan bahwa saya mundur dari persekutuan itu. Hati kecil saya sulit berdamai dengan keadaan itu. Bukan bermaksud sok suci, tapi biasanya menentang hati kecil akan berujung buruk.

Pengunduran diri itu saya sampaikan lewat telepon. Ketika menelpon beliau, lagi-lagi nada sambungnya sangatlah islami. Saya jadi berpikir, tidak kah ini paradoks? Kita menjalani sesuatu yang bertentangan ajaran agama, setahu saya bersekongkol dan mengharap kickback itu bertentangan dengan nilai Islam. Tapi identitas yang ia perkuat sangatlah islami, terbukti dari simbol-simbol agama yang ia pakai dalam ringtone dan nada sambung.

Pilihan nada sambung dan ringtone mewakili ekspresi pemakainya. Seperti halnya pakaian dan simbol-simbol lainnya, nada sambung kita pilih sesuai dengan citra diri kita. Ada juga yang mengatakan nada sambung itu sesuai pilihan suasana hati pemasangnya. Kalau lagi jatuh cinta, maka nada sambungnya akan bertema cinta-cinta. Sedang patah hati juga banyak pilihan nada sambung menunjukkan sedang gundah gulana akibat cinta. Banyak, masing-masing operator seluler menyimpan hampir seluruh suasana hati yang kita inginkan pada databasenya.

Saya masih belum habis pikir tentang suasana hati pegawai salah satu kementerian tadi. Di mata saya saya, citra yang terbentuk akibat nada sambung dan ringtone yang ia pilih adalah seseorang yang sangat menjunjung nilai-nilai Islam. Tapi, begitu ia menawarkan kerjasama yang sepanjang pengetahuan saya justru dicela dalam ajaran Islam, saya jadi merasa ia melacurkan simbol suci tersebut. Ntahlah, ini hanya pandangan pribadi saja.

Lalu, bagaimana dengan bendahara umum Demokrat yang pakai nada sambung nasyid berbahasa arab itu? Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Secara teknis, pakai nada sambung apa saja tidaklah masalah. Toh yang bayar siempunya telepon, kita hanya mendengar saja. Atau barangkali pakai nada sambung berkonten Islam jadi kamuflase untuk menutupi karakter sesungguhnya? Ah… sudahlah menebak-nebak dengan dasar yang tak kuat adalah kesalahan juga.

3 KOMENTAR

  1. iya ya…

    mungkin inilah zaman yg dijanjikan jayabaya… edan

    orang2 sudah imun dg apapun… nasyid atau lantunan KalamuLlah tak mempan membasahi jiwa…

    terima kasih tulisannya kawan…

LEAVE A REPLY