Di kala senang

2
434

Menulislah dikala senang. Itu yang terlintas di benakku saat berangkat ke Bali tanggal 20 agustus kemarin. Kita semua pasti pernah mendengar suara batin sendiri. Ia bertingkah dengan segala macam ide di kepala. Biasanya saat sedang sendiri, saat melamun, atau saat beraktifitas tapi tak membutuhkan kinerja otak yang banyak.

Nunggu pesawat yang kata petugas bandara akan telat 2 jam membuat saya bete awalnya. Lalu saya baca-baca majalah. Selama membaca banyak kecambah ide yang muncul di kepala. Mereka melompat-lompat. Ingin keluar dalam bentuk apapun. Tulisankah, diskusikah, atau cacian malah.

Baca majalah dua jam ternyata membuat lelah juga. Saat masuk pesawat mata tak ingin terpejam. Berbagai ide-ide yang melompat-lompat tadi membunuh syaraf ngantuk. Padahal biasanya setiap naik pesawat saya selalu tertidur. Kali ini tidak. Mereka ingin digoreskan dalam tulisan katanya.

Tapi sayangnya saya sedang tidak memegang kertas. Hanya pena yang setia menggantung di saku kemeja. Cari sana, cari sini, tak ketemu juga. Akhirnya amplop pun jadi sasarannya. Amplop itu tadinya saya gunakan untuk menyimpan uang. Bukan uang suap, bukan pula hasil korupsi. Hanya sengaja memisahkan antara duit pribadi dan duit perusahaan saja.

Ni dia, sang amplop pun jadi korban ide-ide tadi. Ditulis dalam pesawat.

Tapi saya jadi senang. Lega pula. Setelah bebas melibas sang amplop dengan tulisan apapun yang ada dalam fikiranku. Karena belum layak muat, tulisan itupun tak dipindah dalam bentuk apa-apa. Dia hanya tersimpan dalam tas. Mungkin lain waktu bisa dipoles lagi.

2 KOMENTAR

  1. Pengalaman menulis yang menarik lae. Tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kedalam bentuk tulisan. Jadi lae ini termasuk diantara kelompok yang sedikit itu.

    Sama seperti lae , saya pun terkadang ingin mengeluarkan segala unek2 dalam kepala ini dalam bentuk tulisan, tapi ada kendala yang begitu sulit di lewati. Saya tidak terbiasa dengan hal itu sehingga saya seringnya menulis dalam kepala, lalu simpan dalam memori. Tapi lama kelamaan kepala saya jadi puyeng juga lae, mungkin karena overload kali… 😆

    Kalau menurut saya menulis itu ibarat merekam suatu momen untuk keabadian yang bisa di jadikan sebagai cermin diri selama kita dalam perjalanan yang entah sampai kapan garis finish itu bisa kita capai.

    “Tapi saya jadi senang. Legapula. Setelah bebas melibas amplop dengan tulisan apapun yang ada dalam kepala.”

    Yup saya sepakat dengan apa yang lae utarakan, menulis itu bisa sebagai sarana pelepas lelah dan kepenatan yang ada di kepala.

    Walau terkadang harus ada yang jadi korban. Walau itu cuma amplop 😀 . Jadi gak harus takut tim BUSER melacak sampai ke TKP 😆

    salam

LEAVE A REPLY