Dawai yang Sumbang

0
567
Foto: http://www.richardlwitt.com

PERNAHKAH engkau memetik gitar yang salah satu, atau beberapa, dawainya sumbang? Suaranya pasti mengganggu. Bila tak biasa mengatur senar ke nada yang tepat malah bisa menambah kacau. Senar lain yang tadinya sudah berada di nada yang pas bisa ikut-ikutan terasa sumbang.

Ada yang pernah bilang, menjalankan bisnis itu seperti mencari jodoh. Harus bertemu dengan orang yang tepat karena akan melewati jalan terjal nan berliku.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menghayati pesan itu. Aku harus melaluinya sendiri, melihat apa yang terjadi di tempat lain, barulah sadar bisnis memang seperti kumpulan dawai gitar yang membangun harmoni.

Dawai-dawai itu memang saling beda. Mereka mengeluarkan nada di frekensi yang berbeda. Jikalaupun ada yang berdentang di nada yang sama, karakter suaranya jelas berbeda. Meski mereka saling berbeda tetapi mampu membangun harmoni. Ada yang menyumbang di frekuensi rendah dan ia setia pada perannya, ada pula senar yang mengambil peran di frekuensi tinggi.

Harmoni menjadi kacau saat ada dawai yang beranjak dari hakikatnya. Ia mengganggu. Hadir bersama dawai-dawai yang lain, tetapi perannya bikin suasana kacau.

Bisnis pun demikian. Tidaklah mungkin membangun bisnis hanya orang seorang saja. Kita akan berpartner. Ntah itu pada tingkatan pemilik, rekan kerja, klien, pemasok, dan yang lainnya. Perlu harmoni yang serasi agar usaha bisa menari memainkan perannya. Seorang sejarawan Romawi, Sallust, pernah menulis “Harmoni mampu membuat hal kecil tumbuh. Sebaliknya, disharmoni membuat hal-hal besar membusuk.” Kukira Sallust ada benarnya dalam hal ini.

Bagaimana dengan dawai yang sumbang tadi? Mengganti dengan dawai baru belum tentu jadi solusi. Mengajaknya turut ke nada fitrahnya pun belum tentu mudah. Justru disitulah letak seninya berbisnis. Tidak semua dawai harus senada, pun ada kalanya satu-dua dawai  tak lagi setia di nada fitrahnya sehingga mengganggu harmoni.

Menyembuhkan dawai yang sumbang butuh pengorbanan. Untuk mengembalikannya, dawai yang lain harus rela dulu diam sejenak. Biarkan sang dawai sumbang meregang atau mengendurkan dirinya menuju keseimbangan. Jika perlu bantuan, dawai lain harus siap membantu. Setelah ia kembali ke posisi terbaiknya, barulah kita siap berharmoni bersama lagi.

Jikapun dawai yang “melenceng” tadi memang sumbang karena sudah uzur, kita harus merelakannya keluar. Bisa jadi kehadirannya di tempat lain lebih mendatangkan faedah.

Wahai dawai yang sumbang, begitu juga yang tak sumbang. Harmoni buruk yang engkau ciptakan ada solusinya: sembuhkan bersama atau sudahlah ganti saja. Bukan gitar yang lantas engkau pecah. Karena gitar itu hanya tempat menampung dan meresonansi tingkah-tingkah kalian.

 ***

BAGIKAN
Berita sebelumyaBelajar Gigih dari Aden edCoustics
Berita berikutnyaKepergian

LEAVE A REPLY