Ciut Nyali

0
576

TERAKHIR kali saya merasakan ciut nyali yang begitu hebat adalah belasan tahun lalu. Saat masih menduduki bangku SMA pernah ikut seleksi perlombaan internasional. Membayangkan kontestan yang ikut serta dalam gerbong perlombaan betul-betul menghantam nyali. Di ruangan test untuk seleksi tingkat pertama saja saya tiba-tiba kehilangan seluruh gairah hidup. Persiapan selama berbulan-bulan luntur begitu saja. Seperti debu yang melebur menjadi lumpur saat hujan pertama di musim kemarau.

Tak perlu saya ceritakan lebih lanjut. Test itu jelas gagal total. Empat jam di ruangan saya hanya bisa keringatan sendirian. Dikalahkan oleh rasa takut yang berlebihan. Setelah selesai baru saya menyesali, soal yang diujikan tidak sulit-sulit amat. Pada kondisi normal saya mungkin bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun, membayangkan nun jauh di kota besar sana pasti banyak siswa-siswa hebat, yang asupan gizinya berlipat-lipat dari saya, yang akses informasinya jelas lebih lengkap, dan gurunya juga pastinya lulusan perguruan tinggi terhebat. Bak hantu, bayangan-bayangan itu menelan seluruh semangat dan membuat saya lunglai di meja pertandingan.

Iseng-iseng pagi ini saya coba berselancar di dunia internet untuk sekedar melihat-lihat peta persaingan bisnis yang tengah saya jalani. Aduhai… kaget bukan main. Kompetisi sudah demikian hebatnya. Dibandingkan tiga atau empat tahun lalu pertumbuhannya sudah bak jamur di musim hujan. Saya tidak siap melihat pesaing usaha saya justru kelihatan jauh lebih hebat. Pendidikannya lebih tinggi, lebih sesuai bidangnya, dan pengalamannya jauh lebih meyakinkan. “Bisnis saya bakal tengkurap nih,” begitu batin saya berkata-kata sambil tersedu.

Membayangkan saya akan berada dalam ketidakberdayaan membuat rasa ciut belasan tahun lalu datang lagi. Lama… saya terdiam. Mungkinkah saya akan terlindas di jalur yang tahunan saya rintis ini? Atau sudah saatnya pindah track? Bayang-bayang hantaman kekalahan yang menyakitkan itu sungguh tak sanggup saya terima.

Sepanjang hari saya masih terpukul dengan kenyataan yang ada. Untuk mengurangi mendung di hati, saya putuskan beberes taman di depan rumah. Sudah lama tak menyentuh tanaman-tanaman yang sepanjang hari menyumbang oksigen itu tapi selalu luput dari perawatan. Di sudut tembok saya lihat kawanan semut membentuk barisan. Mereka tampak bergegas. “Pasti mereka bikin sarang baru,” gumam dalam hati. Sudah berapa kali sarang semut itu saya berantas. Sudah diracun berkali-kali tetap saja muncul lagi. Sudah diblok dengan kapur anti semut, masih saja tidak kapok. Rencana membereskan taman depan rumah lenyap seketika, mengusir semut-semut hitam itu nampaknya lebih menggoda.

Tapi saya tertegun dengan kegigihan semut yang nyatanya tidak pernah mengganggu itu. Saya hanya sebel melihat mereka melintas di tembok rumah, padahal saya yang capek-capek bayar cicilan rumah, berlelah-lelah mengecat tembok rumah, eh… mereka malah lewat-lewat seenaknya saja.

Hebat juga semangat juang semut-semut ini dan mendadak saya merasa dipermalukan oleh makhluk yang sering saya tindas itu. Mereka yang nyata-nyata saya usir, saya hancurkan sarangnya, tetapi tetap punya kehendak besar untuk bertahan. Lemah betul saya yang hanya membaca kompetisi kian ramai, langsung ciut bagai ayam potong digertak ayam petarung.

Padahal saya belum benar-benar hancur. Kehancuran yang ada di pikiran saya hanyalah buah asumsi yang membetuk ilusi. Lagi pula dalam bisnis, kompetisi adalah hal yang wajar. Duh semut…, terima kasih kalian sudah menampar saya yang sempat hampir dikalahkan oleh bayang-bayang semu.

Ada yang bilang bisnis itu seperti maraton. Saya sudah “maraton” cukup panjang dalam bisnis (dalam ukuran saya tentu saja). Jatuh dan bangun silih berganti datang. Tapi, saya lebih setuju dengan cara kerja semut. Bukan maraton yang mereka tunjukkan, lebih dari itu, yakni endurance yang hampir tiada batas.

Apakah saya harus menghindar dari kerasnya kompetisi? Semut mengasih nasihat sore itu, don’t quit! Sehebat apapun kompetitor yang harus kita hadapi, tetap ada ruang rezeki yang tersedia. Karena hidup bukanlah kompetisi yang hanya menghasilkan satu pemenang . Hidup bukan maraton, tapi proses yang hampir tak berkesudahan. Hingga azal mengentikan waktu kita di muka bumi ini.

Sumber utama foto ilustrasi: www.gettyimages.com

BAGIKAN
Berita sebelumyaAh, Kamu Sudah Berubah
Berita berikutnyaPolitik Rasa Gosip

LEAVE A REPLY