Besok Kamu Mati! Begini Erickson Menyikapinya

0
473
Andai esok adalah waktunya.

Saat masih remaja, tepatnya di usia 17 tahun, Hyland H. Erickson mendapat vonis hidupnya tinggal satu malam saja. Tiga orang dokter berbincang-bincang di luar kamar tempatnya berbaring lemah karena polio. Ia bisa mendengar percakapan antara dokter dan ibunya. Para dokter yang hadir yakin kalau Erickson hanya bertahan satu malam saja.

Selepas dokter itu pergi, ibunya datang dan mencoba menghilangkan semua kegetiran dari raut wajahnya. Erickson tidak bisa bicara karena polio itu. Ayah, Ibu, dan ketujuh saudaranya menguatkan diri menghadirkan kegembiraan di “malam terakhir” Erickson.

Erickson tahu persis kalau dokter sudah angkat tangan atas keadaannya. Tapi ia tak urung menyerah dengan penyakit yang saat itu masih sulit diobati. Erickson lantas mengembangkan sendiri teknik menghibur dirinya sendiri. Menguatkan alam bawah sadarnya bahwa ia mampu.

Singkat cerita, Erickson berhasil sembuh dari polio yang dideritanya. Ia melawan vonis hanya bertahan hidup saja dengan menantang penyakit itu menggunakan kekuatan alam bawah sadarnya sendiri. Berikutnya metode ini banyak dikenal dengan istilah self healing.

Setelah sembuh, Erickson mengambil pilihan hidup menyebarkan pengalaman menyembuhkan diri sendiri dengan kekuatan pikiran. Ia memilih sekolah kedokteran. Erickson tercatat sebagai salah seorang psikiater terkenal di Amerika, khususnya untuk bidang hipnosis dan terapi keluarga.

Milton H. Erickson. Sumber: www.odu.edu
Milton H. Erickson. Sumber: www.odu.edu

Inilah jenis “dendam” yang konstruktif. Ia marah karena penyakit itu menyerang dirinya. Lantas ┬átak mau menyerah pada polio yang ia derita. Bahkan, sisa hidupnya dipakai untuk membalas dendam kepada polio dengan cara yang membawa manfaat bagi orang banyak.

Sumber inspirasi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_H._Erickson

http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_H._Erickson

LEAVE A REPLY