Bersekutu dengan Preman

2
480

32 kilometer. Dalam pelukan bukit barisan, di bibir Danau Toba, jalan berkelok dan berhias kabut karena udara sejuk. Bus yang tak kenal kompromi melaju kencang. Berhenti bagi siapa-siapa saja yang melambaikan tangan untuk ikut serta diangkut. Tak peduli, seberapa penuh dan sesesak apa isi bus. Selama ada penumpang, sikat saja. Berdiri, menggantung, bahkan berjejal diatap bus.

Bus merangkak berderu-deru. Tapi erangan mesin tua itu masih kalah dengan dentuman musik. Mau dengar lagu yang sedang populer di TVRI?, ikut sajalah bus ini. Sesekali lagu pop mancanegara juga hadir. Yang paling digemari dan yang paling bisa dinikmati penumpang adalah lagu batak karo. Seperti film india. Lagu ini bisa menghapus sejenak penat dan melayang sebentar dari persoalan lalu hinggap ke dahan angan-angan. Dan memang, kalau disimak lebih lanjut, pola irama dan karakter lagu karo memang agak mirip dengan lagu-lagu india.

Begitulah perjalanan yang saban hari saya alami saat masih sekolah dasar dahulu. Sepulang sekolah, agenda rutin : Saribudolok – Kabanjahe, Sumatera Utara. Melompati perbatasan Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten Karo. Menikmati tugas sebagai ”tukang belanja” untuk rumah makan nenek saya. Kecil-kecil, saya sudah diamanahi mengantongi duit berjuta-juta. Sampai kota Kabanjahe, duit itu saya bagi-bagi ke penjagal ayam, si tukang tahu tempe, penjaja rempah-rempah, penjual ikan, tak lupa daging sapi. Mereka sudah langganan, jadi tak perlu tawar menawar. Kami sudah mendapat diskon spesial. Sudah mendapat corporate rate, bukan publish rate lagi.

Setelah pesan ini itu, sejam kemudian saya hanya tinggal menjemput pesanan satu persatu. Bawa ke terminal, lalu menelusuri kembali jalan sempit dan berlubang bersama bus yang hanya ada dua pilihan : SIMAS atau SEPADAN. SIMAS itu singkatan dari Simalungun Atas, menggambarkan kebanggan pemilik bus pada daerahnya. SEPADAN singkatan dari Setia pada Agama dan Negara. Oh, betapa bangga saya naik bus SEPADAN ini. Terlihat pemiliknya adalah orang yang nasionalis religius.

Saya hafal betul setiap detil pasar Kabanjahe. Tinggal sebut mau beli apa, tak sampai 5 menit saya akan tunjukkan di kios mana barang itu tersedia. Tapi janganlah cari barang yang aneh-aneh.

Suatu sore, saya sudah selesai pesan semua list belanja. Tinggal menunggu saja. Seperti biasa, sambil menunggu pesanan selesai, saya makan kerang rebus dulu di sudut pasar. Selepas itu barulah mengutip barang-barang yang sudah dipacking rapi.

Dalam perjalanan menuju toko-toko langganan itu saya berpapasan dengan 3 remaja ”tanggung”. Perkiraan saya, mereka seusia anak-anak SMP atau SMA. Mereka senyum, tampak kenal sekali dengan saya. Tapi saya tak kenal sama sekali.

Tiba-tiba salah seorang yang paling besar diantara mereka langsung merangkul saya. Merangkul itu cuma pura-pura saja. Karena sebenarnya leher saya sedang dipitingnya sekuat tenaga sambil menempelkan sebilah pisau ke perut saya. Dingin, pisau itu menempel dan dingin sekujur tubuh ini.

Lantas, mereka menggiring saya ke sebuah gang di seberang pasar. Saya tak dapat berbuat apa-apa. Ukuran jumlah, mereka lebih banyak, 3 lawan 1. Soal ukuran badan, jelas saya kalah. Tak ada pilihan lain, saya tak bisa melawan. Terbayang kalau melawan, dia hanya tinggal mendorong pisau itu dan saya akan menggelepar bagai ayam-ayam di rumah potong langganan saya.

Suasana hati saya tak bisa dikontrol. Ingin menangis, tapi tak kuasa. Ingin menjerit, mulut serasa dikunci mati. Saya ikutkan saja apa yang mereka mau. Sambil berdoa agar tak terjadi apa-apa. Mendadak saya ingat rumah, ayah, ibu, dan saudara semua.

”Keluarkan semua uangmu..!, jangan macam-macam, cepat…”, si pimpinan geng itu menghardik. Dua temannya cengengesan sambil menempeleng kepala saya.

”Jam juga…!”, ah, tak ada pilihan. Jam digital merek alba kesayangan saya itu terpaksa berpisah juga.

Mereka juga ”merogoh” semua isi kantong dan tas saya. Tak ada yang tersisa. Uang, jam, topi dan tas saya diambil semua.

”Bug…”, sebuah tinju mendarat di ulu hati saya. Dunia serasa gelap. Bibir langsung membisu dan membiru menahan perih. ”Plak…”, mereka juga tak lupa menampar saya sebagai ungkapan perpisahan. Saya tersungkur karena pening. Mereka pergi begitu saja. Terkekeh-kekeh mendapat rezeki hasil rampokan hari ini.

Ludes, semua ludes. Ongkos pulang saja tak ada lagi. Dengan sisa tenaga yang terkuras akibat takut dan kena dua pukulan tadi saya lanjutkan pekerjaan mengumpulkan list belanjaan. Untuk ongkos pulang, saya pinjam duit tukang tahu dulu. Saya bilang saja tadi uang untuk ongkos pulang hilang. Mungkin terjatuh.

Kejadian itu tak saya ceritakan kepada siapapun. Saya takut. Bagaimana kalau nanti malah jadi bahan olok-olokan? Mending disimpan dalam hati saja.

Hingga tiba pada suatu siang. Hari rabu. Entah tanggal berapa, bulan berapa dan tahun berapa. Saya lupa. Yang jelas, sekitar beberapa minggu setelah kena rampok di Kabanjahe.

Hari rabu adalah hari pekan di Saribudolok. Kalau hari rabu tiba, kota kecil ini mendadak menjadi ramai. Seisi kota penuh dan berubah menjadi pasar. Pasar rakyat yang besar sekali. Kegiatan belanja dipusatkan satu hari saja dalam seminggu. Maka masyarakat desa sekitar Saribudolok akan menyerbu, membeli kebutuhan pokok.

Dari kejauhan, tiba-tiba saya lihat 3 anak yang merampok saya dulu. Kepala ini langsung panas. Aroma balas dendam memuncak dan membuat saya mendatangi beberapa preman di sekitar terminal. O ya, kehidupan kecil saya begitu dekat dengan para preman dan anak-anak terminal. Namun, saya memang hanya berhadapan dengan sisi baik preman saja. Mereka begitu setia kawan, ramah pada anak-anak, kalau mau jajan minta saja sama mereka, pasti dikasih. Tentu saja kalau kita sudah kenal mereka.

”Bang…bang…, itu ada anak Kabanjahe yang pernah merampokku…”. kira-kira begitulah saya bilang.

Tak banyak bicara, preman terminal ini minta ditunjukkan saja orangnya. Mereka, sekitar 4 atau lima orang. Menghampiri geng perampok itu, langsung mendekap mereka juga. Seperti halnya saya didekap dulu. Dibawa ke lapangan kosong. Saya mengambil jarak, tak mau ikutan ke lokasi eksekusi. 3 anak pencopet itu habis-habisan dipukuli. Ditunjang, dipukul, dibanting, dan entah diapain saja. Mukanya sampai bengkak dan berdarah-darah. Kasihan juga saya melihat mereka dihajar begitu rupa. Saya dulu cuma kena 1 pukulan dan 1 tamparan. Tapi lihat mereka sampai berdarah-darah begitu. Terkulai tak berdaya. Preman suruhan saya itu pun gantian merampok mereka. Pakaian anak-anak pencopet itu dilucuti, duitnya diambil, serta barang-barang lain.

Saya masih ditempat yang agak jauh dari TKP. Begitu selesai, preman-preman Saribudolok yang baru saja menghajar 3 anak mantan copet itu menghampiri saya. ”Kemarin kena copet berapa?”, katanya. Saya bilang ”ga tau, sudah lupa”. Lalu dia memberikan sebagian hasil copetannya yang diperoleh dari pencopet juga ke saya. Anehnya saya terima sambil senyum, dan bilang terimakasih. Dulu sih ga aneh, sekarang saja saya merasa aneh sendiri.

”Sama-sama senang kita kan??”, begitu katanya.

Wah…, saya bingung harus jawab apa. Disisi lain senang karena dendam terbalas, tapi kasihan juga mereka dihajar habis-habisan begitu.

Lalu, saya temui nenek dan mengajukan permohonan agar saya libur dulu belanja ke Kabanjahe barang 3 atau 4 bulan. Alasannya saya bilang mau belajar, tapi sebenarnya takut kalau-kalau preman cilik itu balas dendam dan gantian menghajar saya di Kabanjahe.

Memang, masuk ke lingkaran masalah preman bikin runyam. Jadi jangan sampailah…. Cukup berteman saja dengan mereka. Sebab banyak nilai positif pada salah satu sisi preman, tentunya saat mereka masih belum kehilangan akal untuk jadi anarkis. Sisanya, preman adalah makhluk yang baik budi, setia kawan, jantan, melindungi, dan peduli. Dengar-dengar ada parpol yang pakai jargon ini. Saya curiga, jangan-jangan mereka preman ya?? He..he..

BAGIKAN
Berita sebelumyaKabita Midi Controller
Berita berikutnyaGemes

2 KOMENTAR

  1. Bang Ir,
    Kabupaten Karo itu kampung ayah saya…

    kampung kecil yang selalu dielu-elukannya..

    “wilayahnya kabupaten, tapi produksi, budidaya, dan hasil bumi bisa memberi makan orang seprovinsi..”

    begitu katanya selalu..

    Kalau saya dari medan mau ke sini, naik Mini Bus bernama Sinabung Jaya…
    Dan yak, betul, lagu yang diputar adalah lagu batak karo..
    namanya Perkolong-kolong Bang…

    Saya selalu heran kalau sama bibi naik minibus ini, karena bibi selalu ikut bernyanyi mengikuti lagu perkolong2 ini..

    Serasa semua album perkolong2 dia hafal…

    dan diakhir lagu, saya masih ingat, dan akan selalu ingat petuahnya pada saya…

    “Orang karo itu lembut har, ga pernah dia menunjukkan kemarahannya pada orang, cukup disimpan dalam hatinya saja, dan Hari adalah orang karo..”

    Saya hanya manggut-manggut saja.

    ya..ya.. betul Hari. Bukan cuma seprovinsi. Singapur tuh suplay makanan dari Karo & Simalungun. Kita embargo saja produk hasil bumi, mereka bisa kelimpungan satu negara. He..he.. Mejuah-juah kita kerina ya..

  2. salam!
    pa kabar Irfan?
    blogwalking kemarin via blognya Faris….
    nice reading here 🙂
    salam buat istrinya ya.
    eh tinggal dimana sih sekarang?

    eh, teh Adjeng… dah lama tak basuo, he..he.. Salam juga dari istri saya Teh. Sekarang kami tinggal di Bandung Teh.

LEAVE A REPLY